Arba’in – The Fourth

Sci,Tech and Ent

Saigo no Yoru

 

Balikpapan …..

Tidak terasa, sudah 13 tahun sejak pertama kali aku merantau, meninggalkan kota ini. Saat itu, medio Mei 1996, masih teringat jelas, abah, adik, nenek, sepupu-sepupu, bibi dan paman, ikut mengantarkan aku dan mamah berangkat ke Makassar dari pelabuhan Semayang. Entah apa yang ada di pikiranku dua minggu sebelumnya. Ajakan tante untuk melanjutkan sekolah di STM Telkom Makassar langsung kuterima, walaupun sebenarnya mamah dan (Alm.) kakek agak keberatan dengan keputusanku. Padahal andaikan nggak merantau, aku bakalan diterima di sekolah terbaik di Balikpapan. Mungkin ini semua karena darah bugis yang mengalir dalam tubuhku, akhirnya kuputuskan tetap merantau setelah lulus SMP.

Hidup ini penuh pilihan, itu kata orang-orang. Dan memang, keputusan yang kuambil juga harus dibayar mahal. Perbedaan suasana dan budaya di Makassar, didikan keras tante, ditambah meninggalnya kakek hanya empat bulan setelah aku merantau, benar-benar nyaris membuatku-yang sejak lahir dibesarkan di lingkungan masyarakat Banjar-lari kembali ke Balikpapan. Tapi dukungan orang tua juga yang bisa membuatku bertahan hidup di Makassar.

Keputusan yang pada akhirnya kusyukuri. Andaikan aku waktu itu nggak merantau, mungkin aku nggak akan pernah ketemu dengan teman-teman di STM Telkom, dan mungkin juga nggak akan ngerasain kuliah di ITB, dan kerja di Jakarta seperti sekarang.

Sekarang, 13 tahun kemudian, aku kembali ke tempat yang sama dengan waktu aku meninggalkan Balikpapan untuk pergi merantau, pelabuhan Semayang. Entah kenapa, ada rasa penasaran dalam hati. Apa ya yang kira-kira terjadi kalo waktu itu aku nggak merantau ? Nah !

Andaikan teori tentang dunia paralel itu benar adanya, aku ingin melihat "versi" kehidupanku, andaikan aku nggak jadi merantau. Kalo itu terjadi … ehm …. mungkin sekarang aku sudah kerja di salah satu perusahaan asing di Balikpapan, sudah punya mobil, uang banyak, istri, anak dll. Nggak kayak sekarang, hidup dikosan, kerja di salah satu BUMN yang saat ini masih bermasalah dengan anggaran, gaji kecil, udah gitu masih single pula …. hehehe …

Bukan, ini bukan tulisan untuk meratapi diri. Seperti yang kubilang di awal tadi, hidup ini penuh pilihan. Mungkin ini sudah jalan hidupku sejak awal. Waktu SD, ketika teman-teman lain punya cita-cita jadi pilot atau dokter, aku malah kepingin jadi kayak Habibie. Dan karena itulah, sampai detik ini, aku masih berpegang teguh dengan cita-cita itu. Cita-cita (atau lebih tepatnya, idealisme) yang sampai saat ini membuatku rela mengadu nasib di ibukota.

Balikpapan ….

Kota ini sudah banyak berubah. Pendatang makin banyak. Gedung-gedung tinggi mulai menjamur. Tapi kenangan-kenangan tempo dulu masih tergambar jelas dalam ingatan. Setiap kali memandang obor kilang pertamina itu, seakan aku bisa melihat ke masa lalu. Masa kecilku di dam, masa SMP di gunung pasir, masa-masa aku menghabiskan hari-hariku bersama adik di kebun rumah, masa-masa yang terlalu manis untuk dikenang lagi.

Jauh di lubuk hati … aku ingin kembali lagi … hidup di kota ini. Memberikan yang terbaik untuk orang tua dan tanah kelahiranku sendiri. Pergi dari segala kebisingan dan kemunafikan ibukota yang telah meracuniku selama ini.

Ini malam terakhirku di Balikpapan tahun ini … Tuhan, kumohon …. aku ingin bisa kembali lagi ke tempat ini suatu saat nanti …. 

September 22, 2009 - Posted by | Bhs Indonesia, Thought and Opinion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: