Arba’in – The Fourth

Sci,Tech and Ent

Masa Lalu di Sekitar Kita

 

Waktu, atau yg biasanya ditulis dalam notasi t di ilmu Fisika, merupakan salah satu besaran utama yg saya anggap paling menarik untuk disimak. Umumnya kita mendefinisikan waktu sebagai sesuatu yg absolut, dengan satuan second (detik), dan menjadi salah satu besaran yg paling banyak digunakan dalam berbagai rumus fisika. Lalu di mana sisi menariknya ?

Manusia umumnya mengukur suatu hal berdasarkan apa yg diterima oleh panca inderanya, dan kemudian membuat tetapan atau rumusan terhadapnya. Rumusan kemudian berkembang menjadi teori, dan teori yg dibarengi eksperimen akan menghasilkan sains. Namun, terkadang panca indera kita bisa keliru dalam menafsirkan sesuatu yg diterimanya. Mungkin anda masih ingat waktu masih SD (atau SMP) dulu, ada percobaan fisika di mana ada 3 wadah berisi air. Wadah pertama berisi air (lumayan) panas, wadah kedua berisi air dingin, dan wadah ketiga berisi air biasa. Kita celupkan tangan kanan ke wadah berisi air panas dan tangan kiri ke wadah berisi air dingin selama beberapa saat. Setelah itu celupkan kedua tangan ke wadah berisi air biasa. Apa yg terjadi ? Ternyata tangan kanan kita terasa dingin, dan tangan kiri terasa panas, padahal airnya nggak dingin atau panas. Itu salah satu bukti bahwa panca indera kita bisa keliru dalam membuat penafsiran tentang suatu hal.

Selama ini kita menganggap waktu sebagai suatu besaran untuk mengukur kapan terjadinya suatu hal. Masa kini (the present) adalah bagian waktu yg saat ini kita alami (hari ini, jam ini, menit ini, detik ini), masa lalu (the past) adalah bagian waktu yg telah terjadi sebelumnya dan masa depan (the future) merupakan bagian waktu yg akan terjadi nanti. Kita umumnya menilai segala sesuatu yg terjadi di sekeliling kita pada detik ini adalah bagian dari masa kini. Detik ini misalnya, saya … ehm .. melihat ada cewek cantik berjalan di depan saya emoticon. Saya akan menganggapnya sebagai kejadian di masa kini.

Namun, seperti yg saya tulis di atas, panca indera kita bisa membuat kesalahan dalam menafsirkan sesuatu. Umumnya kita menilai waktu sebagai hal yg diterima oleh indera kita pada saat itu. Misalnya saja anda melihat ada kilat menyambar di kejauhan. Biasanya kan, suaranya akan terdengar beberapa detik setelah kilat. Kenapa bisa begitu ? Karena kecepatan cahaya jauh lebih tinggi dari kecepatan suara. Orang yg berada di dekat posisi kilat mungkin akan tetap mendengar suaranya hampir bersamaan dibandingkan cahaya kilat. Tapi orang lain yg jauh dr kilat baru akan mendengar suara kilat setelah beberapa detik. Artinya, apa yg didengar oleh orang yg jauh dari kilat merupakan suara kilat yg sebenarnya terjadi beberapa saat yg lalu. Jadi, suara kilat yg dianggap terjadi pada saat ini oleh orang yg berada jauh dari kilat sebenarnya merupakan bagian masa lalu oleh orang yg berada di dekat kilat.

Contoh yg paling mudah diamati mungkin adalah cahaya. Tidak banyak orang yg sadar bahwa sebenarnya kita hidup dalam lingkungan yg dikelilingi oleh kejadian-kejadian dari masa lalu. Anda mungkin pernah menatap bulan dan bintang yg betebaran di waktu malam. Tapi tahukah anda bahwa bahwa yg anda lihat saat itu adalah masa lalu dari bulan dan bintang yg detik itu baru sampai di mata anda ?

Kecepatan cahaya menurut standar internasional (SI) kurang lebih sebesar 300 juta m/detik. Artinya, cahaya akan menempuh jarak 300 juta meter setiap detiknya atau sekitar 300 ribu km per detik. Jarak bulan ke bumi sekitar 350 ribu – 400 ribu km, artinya, cahaya dari bulan akan menempuh waktu sekitar 1 detik lebih untuk sampai ke mata kita. Jadi, bulan yg kita lihat saat itu sebenarnya adalah bulan pada  satu detik yg lalu, dengan kata lain, saat itu kita sedang melihat masa lalu bulan pada satu detik sebelumnya.

Cahaya butuh waktu sekitar 1 detik lebih untuk sampai ke bumi 

Bagaimana dengan bintang ? Mungkin sudah banyak yg tahu kalo jarak bintang-bintang di bumi satuan nya bukan kilometer lagi, tetapi adalah tahun cahaya (years light). 1 Tahun cahaya maksudnya adalah jarak yg ditempuh cahaya dalam satu tahun perjalanannya dalam ruang hampa. Karena kecepatan cahaya sekitar 300 ribu km/detik, maka jarak satu tahun cahaya sama dengan 300000 km/detik x 60 detik x 60 (menit) x 24 (jam) x 365 (hari) atau sekitar 9460800000000 km (9 triliun 460 miliar 800 juta kilometer).

Bintang terdekat dengan bumi (selain matahari) adalah Proxima Centauri dengan jarak 4.22 tahun cahaya. Artinya, cahaya akan butuh waktu sekitar 4.22 tahun sebelum sampai ke mata kita. Dengan jarak segitu, akan butuh waktu sekitar 32 ribu tahun emoticon untuk wahana tercepat hingga saat ini (Apollo 10 dgn kecepatan 11.1 km/detik) untuk bisa mencapai bintang tersebut. Itu belum termasuk bintang-bintang lain yg jaraknya bisa mencapai ribuan atau jutaan tahun cahaya dari bumi.

Kesimpulannya, yg kita lihat setiap malam adalah masa lalu dari bintang-bintang yg ada di alam semesta. Bisa jadi, bintang yg kita lihat tersebut adalah keadaan bintang ribuan atau jutaan tahun yg lalu yg cahayanya kebetulan baru sampai di mata kita. Bintangnya sendiri mungkin sebenarnya sudah tidak ada lagi di sana, entah mati jadi supernova atau jadi blackhole, cuman cahayanya aja yg belum sampai di mata kita. Wallahualam.

images taken from : Wikipedia.org 

May 15, 2008 - Posted by | Bhs Indonesia, Science and Technology, Thought and Opinion

2 Comments »

  1. wah maksih atas penjelasan saudara, jadi tamabah ilmu nich………????

    Comment by agung | July 17, 2008 | Reply

  2. menarik…

    Comment by irene mustikaningtyas | September 29, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: